APA SIH PEYRONIE itu ? SIMAK YUK PENJELASANNYA !

APA SIH PEYRONIE itu ? SIMAK YUK PENJELASANNYA !

Definisi Peyronie

Penyakit peyronie merupakan keadaan dimana pada penis bagian tunika albuinea terdapat plak fibrotic. Ditemukan seorang ahli bedah asal perancis, francois gigot de la peyronie pada tahun 1742. Ada pasien yang datang dan mengeluhkan nyeri saat ereksi, kelengkungan penis dan ereksi yang buruk terjadi di daerah yang terkena.

Epidemiologi

Prevalensi penyakit ini adalah sekitar 3-9% pada pria. Namun, prevalensinya dapat lebih tinggi karena banyak pria yang enggan dan malu memeriksakan keluhannya. Penyakit ini muncul pada pria usia 40-70 tahun. Di dapatkan 2 fase yaitu

  • Fase akut, terjadi selama 6-18 bulan. Ditandai adanya perkembangan kurvatura penis dan rasa nyeri saat ereksi.
  • Fase kronik, munculnya gejala nyeri penis, dan abnormalitas penis yang menetap.

Faktor resiko

  • Trauma belurang pada penis yang ereksi selama aktivitas seksual
  • Defisiensi vitamin E
  • Konsumsi obat beta bloker
  • Peningkatan kadar serotonin
  • Aterosklerosis
  • Hipertensi
  • Hiperkolesterolemia
  • Hyperlipidemia
  • Diabetes
  • Merokok

Gejala Klinis

  • Nyeri saat ereksi
  • Penis melengkung
  • Ereksi minimal dibagian distal dari area sakit
  • Tanda khas nyeri menghilang setelah ereksi berhenti (flaccid)
  • Terdapat bagian-bagian keras di penis (fibrous plaque) pada tunica albuginea
  • Plak biasanya terdapat di dekat garis tenah dorsal batang penis

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk penyakit ini adalah ultrasonografi penis untuk mengetahui dan identifikasi plak. Pemeriksaan histologi dapat dilakukan pada jaringan plak peyronie dan menunjukan memiliki deposisi abnormal serat elastis di sekitar susunan kolagen yang tidak teratur dan berlebihan.

Terapi non bedah

  • Terapi oral
  1. Vitamin E, memiliki efek antioksidan dan berperan untuk perbaikan DNA. Sifat dari antioksidan itu sendiri dapat menghambat sintesis nitrat oksida sehingga berefek positif pada otot polos pembuluh darah.
  2. Potasium para-aminobenzoate (Potaba), terbukti dapat menurunkan kolagen sehingga dapat membuat stabil dan mencegah perkembangan kelengkungan penis
  3. Tamoxifen, merupakan antiestrogen non-steroid dan memiliki cara kerja memodulasi TGF-B1, yang mengurangi fibrosis
  4. Colkisin, cara kerja belum dapat dipastikan. Namun diketahui dapat menurunkan asam laktat yang menurunkan endapan asam urat dan menurunkan sintesis kolagen.
  5. L-carnitine, belum dipahami kerjanya. Namun, dihipotesiskan meingkatkan respirasi mitokondria menurunkan radikal bebas.
  6. Penroxifyline, merupakan inhibitor fosfodiesterase nonspesifik dengan menggabungkakn difat anti-inflamasi dan anti fibrogenik. Dengan cara memblok TGF-B1 yang berperan pada jalur peradangan dan untuk mencegah pengendapan kolagen tipe I.
  7. Phosphodiesterase type 5 (PDE5) inhibitor, mekanismenya dengan meningkatkan kadar cGMP yang akan membuat hambatan sintesis kolagen dan menginduksi apoptosis fibroblast. Sehingga memiliki peran anti-fibrotik dengan menghambat pembenrukan scar.
  • Terapi injeksi
  1. Verapamil, merupakan antagonis kalsium chanel yang menambah aktifitas kolagenase, meningkatkan ekspresi sitokin yang berhubungan dengan peraddangan dini dan pembentukan luka dan menghambat proliferasi fibroblast dalam plak penyakit ini.
  2. Collagenase, berfungsi untuk mendegradasi kolagen interstitial khususnya kolagen tipe II. Baik digunakan untuk plak kecil dan kelainan bentuk penis minor. Bisa digunakan untuk fase akut dan kronik.
  3. Interferon, merupakan sitokin pada proses inflamasi. Interferon-A-2b menghambat proliferasi fibroblast, meningkatkan aktivitas collagenase, menurunkan produksi kolagen.
  • Terapi topical dan iontophoresis
  1. Aminopropoonitrile, hidrokortison dan verapamil merupakan obat topical dengan hasil yang cukup baik dab menjadi pilihan.
  2. iontophoresis, dengan memanfaatkan transport elektrokinetik molekul bermuatan untuk meningkatkan pengiriman obat transdermal ke jaringan yang sakit, terutama plak di penyakit peronei.
  • Terapi extracorporeal shockwave (ESWT)

Menurut salah satu penelitian dapat mempercepat resolusi nyeri dibandingkan dengan perjalanan alami penuakit. Namun saat ini tidak direkomendasikan karena tidak terbukti bermakna memperbaiki kelengkungan dan ukuran plak.

  • Penile traction device

Traksi menginduksi pembentukan jaringan ikat baru. Namun masih perlu studi lanjutan.

 

Terapi bedah

Bedah merupakan gold standart tindakan pada penyakit peronei yang paling cepat dan ampuh. Dengan cara menempatkan protesis penis sehingga memberikan rigiditas untuk aktivitas penetrasi seksual. Terapi bedah diindikasikan pada pria yang tidak mampu melakukan penetrasi seksual, deformitas stabil setidaknya 6 bulan sejak awal gejala, kegagalan terapi medis ataupun minimal invasive.

  • Tunical shortening procedure (penile plication)

Indikasi untuk pasieng dengan kelengkungan yang tidak parah. Dengan cara memperpendek sisi tunika albuginea yang bersebrangan untuk menyamakan Panjang kedua sisi penis. Syarat idealnya adalah pria dengan Panjang penis yang memadaim kelengkungan <60 derajat, fungsi ereksi baik dan tidak ada hourglass defect. Keuntungan metode ini yaitu waktu singkat, kosmetik baik dan efek minimal.

  • Tunical lengthening procedure (incision and grafting)

Dengan cara menginsisi plak untuk mengembalikan kelengkungan penis dan menggunakan graft untuk menambah tunika albuginea yang sudah di insisi. Indikasi pada kelengkungan yang luas (>60 derajat), terdapat beberapa area plak dan Panjang penis tidak memadai.

  • Penile prosthesis implantation

Berguna untuk meluruskan kelengkungan dan memberikan ereksi fungsional. Dapat membantu meregang atau mematahkan plak dan meluruskan penis. Tingkat keberhasilan tinggi.

 

Komplikasi

Pada 2/3 pasien penyakit ini akan bertambah resikonya jika memiliki penyakit vaskuler sehingga menyebabkan disfungsi ereksi.

 

Husein, rahmat. 2020. tatalaksana penyakit peyronie

Zakaria, Iskandar. 2007. Cavernosonografi

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

SEBELUM KHITAN, WAJIB TAHU APA ITU SMEGMA? SIMAK YUK!

SEBELUM KHITAN, WAJIB TAHU APA ITU SMEGMA? SIMAK YUK!

Apa itu Smegma ?

Sebelum anak khitan terkadang orang tua mengeluhkan terdapat suatu benda putih yang keluar bersamaan dengan air kencing. Benda ini dalam bahasa medis disebut dengan smegma. yang merupakan suatu debris yang dihasilkan dari sel epitel preputium dan terkumpul dalam preputium. Ketika terkumpul banyak dan jarang dilakukan pembersihan maka akan terkumpul dan mengadakan perlengketan dengan glands penis. Sehingga kulup sulit ditarik kebelakang, kelainan ini dinamakan fimosis.

Resiko jika tidak dilakukan pembersihan smegma

Resiko yang dapat timbul apabila benda putih ini tidak dapat di bersihkan adalah berbagai penyakit seperti

  1. Balanitis (peradangan pada gland penis)
  2. Posthisis (peadangan padakulup)
  3. Fimosis (perlengketan antara kulup dan gland penis)
  4. Infeksi saluran kemih (ISK)

Pembersihannya relatif mudah dilakukan apabila kulup sudah dapat ditarik kebelakang. Pembersihan cukup dilakukan dengan menarik kulup kebelakang dan mengusap secara rutin pada area sekitar kepala penis saat sedang mandi. Berbeda halnya ketika terdapat fimosis maka dianjurkan untuk melakukan khitan terlebih dahulu agar pembersihan benda putih ini dapat optimal dan menurunkan resiko terjadinya infeksi saluran kemih.   

Smegma sendiri sebenarnya tidak berbahaya, karena bisa berfungsi sebagai pelumas saat berhubungan seksual. Pada pria yang tidak disunat, smegma membantu agar prepusium dapat bergerak maju mundur dari kepala Mr. P tanpa iritasi. Namun, jika menumpuk dapat menimbulkan masalah di kemudian hari.

Penumpukan smegma pada pria juga dapat menimbulkan balanitis. Balanitis adalah peradangan yang menyerang kepala Penis laki-laki yang belum disunat. Penyakit ini menimbulkan gejala seperti sakitnyaPenis, memerah, bengkak, mengeluarkan bau tidak sedap, serta nyeri saat buang air kecil.

Cara Membersihkan Penis dari Smegma

  1. Tarik kulit kulup kepala Penis ke belakang.
  2. Cuci Penis dengan air mengalir dan sabun netral (tanpa alkohol dan pewangi).
  3. Usap dan gosok kulit Penisdengan lembut.
  4. Bilas bersih dan tepuk-tepuk dengan handuk halus hingga Penis dan kulup benar-benar kering.
  5. Kendurkan kembali kulup Penis

Yuk mulai sekarang jaga kebersihan alat kelamin ya agar terhindar dari berbagai macam penyakit yang berbahaya…

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Yuk kita bahas apa sih WEBBED PENIS? SIMAK SAMPAI AKHIR YA!

Yuk kita bahas apa sih WEBBED PENIS? SIMAK SAMPAI AKHIR YA!

Webbed Penis

Webbed penis merupakan suatu keadaan kelainan kongenital dimana terdapat jaring atau ikatan kulit yang memanjang antara kulit scrotum menuju ke bagian ventral dari penis. Termasuk kedalam kelainan “unconspicuous penis”. terdiri dari burried penis, webbed penis, trapped penis, concealed penis, diminutive penis, dan mikropenis.

Penyebab dari kelainan ini masih belum jelas. Ada yang menduga dikarenakan terjadinya gangguan pada masa perkembangan janin yaitu kulit kulit tidak terbentuk secara sempurna menutupi penis sehingga meminjam kulit dari scrotum untuk menutupinya.

table 1 - artikel jagoan khitan - webbed penis

Diagnosis dan pengobatan pada kelainan penis ini lebih mudah dibandingkan dengan kelainan lainnya dalam grup unconspicuous penis. Cukup dengan melakukan pemeriksaan fisik sederhana. Gejala klinis cenderung jarang didapati. Keluhan hanya berupa gangguan kosmetik.

Terapi bedah dapat dilakukan pada usia-usia sekolah dasar. Namun, dari sisi dokter bedah lain juga menyarankan dilakukan saat bayi. Masih terdapat kontroversi.

Penis anak yang ukurannya terlalu kecil dan sulit berdiri memang bisa disebabkan oleh webbed penis. dikutip dari alodokter , kelainan ini merupakan suatu deformitas dimana kulit buat zakar melekat ke kulit penis. Kondisi ini bisa terjadi karena kelainan sejak lahir ataupun didapat, misalnya karena riwayat cidera, peradangan, atau efek samping pembedahan di sekitar penis dan buah zakar.

Akan tetapi, tidak kelainan penis jenis ini berbahaya. Jika perlekatan ini minim saja, maka hal ini tidak perlu dikhawatirkan dan tidak perlu juga diberikan penanganan khusus. Selain itu, tidak selalu juga penis anak yang kecil dan sulit berdiri muncul karena kelainan jenis ini. Bisa jadi juga, keluhan ini muncul karena pencetus lain atau penyebab lain seperti contohnya penyakit Peyronie, kelainan genetik, kelainan hormon, dan kondisi medis lainnya.

El-Koutby, M., & Mohamed Amin, e. (2010). Webbed penis: A new classification. Journal of Indian Association of Pediatric Surgeons, 15(2), 50–52. https://doi.org/10.4103/0971-9261.70637

Singodimedjo, Prawito. 2006. Webbed Penis: Simple Diagnosis And Treatment.

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

KENALI LEBIH JAUH KRIPTORKISMUS, SIMAK ARTIKEL INI YA!

KENALI LEBIH JAUH KRIPTORKISMUS, SIMAK ARTIKEL INI YA!

Kriptorkismus adalah suatu kelainan kongenital pada salah satu atau kedua testis yang harusnya berada di skrotum pada saat lahir, berada di posisi lain dan tidak dapat dipindahkan secara manual ke posisi yang seharusnya.

Epidemiologi

Pada bayi laki-laki baru lahir hal ini merupakan salah satu gangguan dari kelenjar endokrin dan gangguan genital yang sering ditemukan. Bayi yang lahir prematur memiliki angka insiden 30%, hal ini berbeda jika bayi cukup bulan hanya 3-5%.

Bayi dengan riwayat kecil masa kehamilan yang disertai dengan kriptorkismus, penurunan spontan pada testis setelah lahir rendah dibanding dengan bayi berat lahir normal dengan kriptorkismus. Bayi dengan berat badan kurang dari 900 gram memiliki angka kejadian kriptorkismus sebesar 100%. dan angkanya menurun seiring dengan bertambahnya berat badan lahirnya, pada bayi dengan berat badan lalhir 2700-3600 gram angka kejadiannya 3%.

Hampir 70% kriptorkismus itu teraba dengan pemeriksaan fisik dan tidak memerlukan pemeriksaan radiologi, sedangkan pada kriptorkismus yang tidak teraba 30% di daerah inguinal-krotal, 55% di intra-abdominal dan 15% tidak ditemukan atau menghilang. Diprediksi bahwa 20-30% anak dengan kriptorkismus adalah bilateral.

Etiologi

Turunnya testis merupakan langkah terakhir dari serangkaian proses genetik, embriologik dan hormonal yang mengatur pertumbuhan gonad serta deferensiasi dan pertumbuhan genital. Gangguan pada tahap manapun dalam proses ini akan menyebabkan suatu spektrum kelainan mulai dari interseksualitas dengan gangguan virilisasi berat dan gangguan penurunan testis sederhana. Lokasi testis dalam skrotum sangat diperlukan untuk proses spermatogenesis dan fungsi epididimis, karena suhunya yang lebih rendah 1,5-2 derajat C disbanding suhu tubuh. Proses turunnya testis hanya terjadi pada mamalia yang hidup diatas tanah. Pada beberapa binatang, turunnya testis hanya terjadi pada saat kopulasi, sementara pada binatang hibernasi turunnya testis hanya terjadi pada musim kawin. Walaupun testis ikan paus terletak intra-abdominal namun diduga mengalami pendinginan karena kontak kontinyu dengan air dingin. Selama kehamilan perkembangan testis adalah: Usia  6 minggu: primodial germ cell migrasi ke genital ridge, Usia 7 minggu: terjadi deferensiasi testis, Usia 8 minggu: hormon testis mulai aktip, Usia 10-11 minggu: sel leydig menghasilkan hormon testosterone, Usia 11-15 minggu: terjadi deferensiasi genitalia externa

Proses migrasi/turunnya testis terdiri dari 3 tahap:

  1. Tahap pertama adalah: “nephric displacement”saat posisi testis secara relatif berubah akibat naiknya mesonepros (pada tahap ini factor endokrin tidak berperan).
  2. Tahap kedua adalah: “migrasi transabdominal” yang terjadi antara minggu ke (7 – 12), migrasi ini disebabkan oleh pertumbuhan gubernakulum ektra abdominal.
  3. Tahap ketiga adalah: “migrasi transinguinal”yang terjadi antara bulan ke 7 kehamilan sampai kelahiran.

Beberapa teori migrasi transinguinal ini: Tarikan oleh gubernakulum atau otot kremaster, Perkembangan dan pematangan epididimis, Pertumbuhan relatif dinding abdomen, Tekanan intra abdominal. Dalam tahap kedua dan ketiga, diduga factor hormonal androgen dan gonadotrophin berperan sangat besar. Adapun hormon yang mengontrol penurunan testis adalah: MIS, androgen, GFN, dan CGRP.

Ada juga yang mengatakan hipotesis penurunan testis adalah:

  1. Hipotesis traksi: gubernakulum testis dan otot kremaster berperan pada desensus testis dengan cara menarik testis ke dalam skrotum.
  2. Hipotesis dorongan epididimis: epididimis mempunyai aksi mendorong pada testis yang sedang berkembang.
  3. Hipotesis perbedaan pertumbuhan: perbedaan pertumbuhan testis dan gubernakulum pada satu sisi dan dinding tubuh pada sisi lainnya, menyebabkan kanalis inguinalis tumbuh ke atas, yang akhirnya mengelilingi testis yang relative tidak mobil.
  4. Hipotesis tekanan abdominal: desensus testis terjadi karena tekanan intra abdominal meninggi akibat pertumbuhan alat-alat dalam.
  5. Hipotesis endokrin: terdapat berbagai hipotesis, yang semuanya berdasarkan bukti bahwa factor-faktor endokrin mempunyai peranan krusial dalam hal mengatur desensus testis normal.

Proses dari desensus salah satunya dapat dipengaruhi oleh faktor homonal meliputi Anti mulerian hormon (AMH), androgen, INSL-3 (insulin Like-3), estradiol, LGR8 (Leucine-rich repeat-containing G protein coupled receptor 8) genitofemoral nerve (GFN) dan calcitonin gene related peptide (CGRP). penyebab utama kriptorkismus yaitu adanya defek dari sekresi androgen pada masa prenatal baik sekunder oleh karena stimulasi gonadotropin hipofisis mauoun karena rendahnya produksi gonadotropin plasenta. Pada kebanyakan kasus kriptorkismus disebabkan oleh hipogonad baik hipogonadisme primer maupun hipogonadisme sekunder, pada kasus tersebut terjadi penurunan produksi testoteron dan sekresi hormon INSL-3 yang abnormal.

Diagnosis

Dokter akan mendiagnosis kriptorkismus bila testis memang tidak ditemukan pada kantung skrotum. Dokter akan memeriksa dengan menggunakan tangan dan anak dalam posisi duduk atau tidur terlentang serta tungkai dilipat. Kemudian testis akan mulai dirapa dari mulai daerah Spina iliaca Anterior Superior (SIAS) menyusuri inguinal ke arah kantong skrotum dengan cara milking (pijatan). Dokter akan melakukan rujuk ke dokter spesialis bedah jika kriptorkusmus terjadi sejak lahir dan testis tidak turun spontan setelah usia 6 bulan sesuai dengan usia koreksi kehamilan.

Untuk mengetahui adanya testis pada kriptorkhismus bilateral pada usia lebih dari 4 bulan dapat dilakukan dengan uji HCG: penderita disuntikan HCG 1500 i.u 3 hari berturut-turut, dan dilakukan pemeriksaan kadar hormon testosteron dalam darah sebelum dan 24 jam setelah penyuntikan terakhir, kemudian kadar hormon testosterone yang meningkat secara bermakna membuktikan adanya testis. Sedangkan untuk usia kurang dari 4 bulan dapat diperiksa kadar hormon testoteron secara langsung.

Pemeriksaan USG dapat dilakukan jika pada perabaan tidak dapat dilakukan. Namun, konfirmasi diagnosis untuk kriptorkismus yang paling baik saat ini yaitu dengan menggunakan laparoskopi untuk testis yang tidak teraba. Eksplorasi bedah seperti laparoskopi atau eksplorasi secara terbuka harus dilakukan pada semua kriptorkismus yang tidak teraba pada pemeriksaan fisik baik unilateral maupun bilateral. Laparoskopi merupakan gold standart dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.

Klasifikasi

Diagnosis berdasarkan letak testis:

  • Kriptorkismus Intraabdominal
  • Kriptorkismus inguinal
  • Kriptorkismus preskrotal

Pemantauan

  • Lakukan pemeriksaan pada skrotum pada setiap anak laki-laki untuk kontrol kesehatan.
  • Orang tua anak lelaki yang memiliki riwayat kriptorkismus, perlu diingatkan tentang resiko jangka panjang berupa infertilitas dan risiko kanker dikemudian hari.

 

Tatalaksana

Pada kelainan kriptorkismus testis sebenarnya akan turun secara spontan pada usia 6 bulan kehidupan. Jika setelah dipantau tidak turun dalam 6 bulan maka testis tidak akan turun secara spontan. Maka perlu dilakukan tindakan orkhidopeksi dan usia yang disarankan adalah usia 6 bulan. Jika belum dapat dilakukan tindakan operasi pada usia 6 bulan dapat ditunda sampai dengan <12 bulan. Hal ini karena kemungkinan untuk penurunan testis secara alami tidak akan terjadi setelah usia 6 bulan dan jika testis tidak berada dalam kantong testis maka akan beresiko merusak testis itu sendiri.

 

Ketika testis rusak maka akan meningkatkan gangguan dari fertilitas, keganasan pada testis, torsi dan atau berhubungan dengan hernia inguinal. Tatalaksana orkhidopeksi lebih menjadi pilihan dibandingkan terapi hormonal. Hal ini karena dari beberapa penelitian memperlihatkan keberhasilan terapi hormonal hanya 6-21%, dan standart terapi kriptorkismus di Amerika adalah dengan orkhidopeksi atau suatu tindakan bedah untuk mereposisi testis kedalam skrotum memiliki angka keberhasilan yang tinggi dibandingkan dengan terapi hormonal.

 

 

Suryawan, Wayan et al. 2003. Gambaran Klinis Kriptorkusmus di Poliklinik Endokrinologi Anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Tahun 1998-2002. Sari Pedia

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2017. Diagnosis dan Tatalaksana Kriptorkismus. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia

 

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Ini Dia Tips Mengobati Luka Bakar Akibat ALiran Listrik, Simak Yuk!

Ini Dia Tips Mengobati Luka Bakar Akibat ALiran Listrik, Simak Yuk!

artikel kesehatan - jagoan khitan - tentang luka bakar akibat aliran listrik

Luka bakar merupakan suatu bentuk kerusakan ataupun kehilangan jaringan yang dapat disebabkan oleh panas (api, cairan/lemak panas, dan uap panas), radiasi, listrik, kimia. Luka yang terbakar merupakan jenis trauma yang merusak dan mengubah berbagai sistem tubuh. Luka yang terbakar timbul ketika terjadi sentuhan antara permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Listrik merupakan salah satu bentuk energi yang berhubungan dengan pergerakan dan interaksi antar elektron. Amper merupakan satuan yang digunakan untuk tingkat pergerakan elektron. Setiap 6.242×1018 elektron melewati 1 detik, 1 amper telah terlewati. Pada masa kini hal tersebut dapat membunuh atau melukai seseorang dan menimbulkan luka listrik. 1 amper sama dengan kekuatan untuk mengaliri arus listris bola lampu 100 watt.

Sengatan listrik adalah suatu reaksi fisiologis yang ditandai dengan adanya nyeri dan spasme otot, akibat adanya kontak dengan sumber listrik dan penjalaran arus listrik ke seluruh tubuh. Tubuh manusia merupakan konduktor (perantara) yang baik bagi listrik. Luka bakar, kerusakan organ dalam, gangguan irama jantung, dan bahkan kematian dapat di sebabkan oleh sengatan listrik ini.

Patofisiologi

Adanya paparan panas yang mengenai pada permukaan kulit menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah kapiler kulit dan peningkatan permeabilitasnya. Peningkatan permeabilitas akan menimbulkan reaksi edema jaringan dan pengurangan cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka yang terbakar bakar menimbulkan kehilangan cairan karena terjadi penguapan cairan berlebihan di derajat 1, penumpukan cairan pada bula luka bakar derajat 2, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat 3.

Jika luka bakar yang ditimbulkan < 20% biasanya masih terkonpensasi oleh keseimbangan tubuh. Namun, bila >20%, akan meningkatnya resiko syok hipovolemia ditandai dengan adanya gelisah, pucat, dingin, nadi lemah dan cepat serta penurunan tekanan darah dan produksi urin. Kulit manusia hanya dapat mentoleransi panas pada suhu 44oC (111oF) selama 6 jam sebelum akhirnya akan menimbulkan cedera termal.

Fase luka bakar

Terdapat fase-fase dalam luka bakar yaitu:

  1. Fase akut/syok/awal

fase ini dimulai ketika pasien mulai datang di Instalasi Gawat Darurat (IGD)/unit luka bakar. Pasien biasanya akan mengalami ancaman berupa gangguan airway (jalan napas), breating (mekanisme bernapas) dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway dapat timbul segera ataupun beberapa saat setelah trauma. Obstruksi jalan napas dapat terjadi 48-72 jam paska trauma pada cedera inhalasi. Gangguan keseimbangan baik cairan dan elektrolit dapat menyebabkan syok hipovolemia.

  1. Fase subakut/flow/hipermetabolik

Fase berlangsung setelah syok teratasi. Problem yang timbul pada fase ini dapat berupa terjadinya proses inflamasi atau infeksi pada luka bakar, problem penutupan luka dan keadaan yang hipermetabolisme.

  1. Fase Lanjut

Pasien dinyatakan sembuh dan boleh kontrol rawat jalan. Permasalahan yang timbul di fase ini beruoa terbentuknya kelainan/penyulit seperti jaringan parut hipertrofik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

Derajat luka bakar

Luka bakar di identifikasi tergantung dari derajat sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan permukaan tubuh. Dibagi menjadi:

  1. Luka bakar derajat 1

Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (superfisial)/epidermal burn. Ditandai dengan gejala eritema, sedikit edema, tidak ada bula, dan nyeri. Pada hari ke 4 sering dijumpai deskuamasi. Pemberian salep antibiotik dan pelembab kulit dapat diberikan dan tidak perlu pembalutan.

  1. Luka bakar derajat 2

Kerusakan terjadi meliputi epidermis dan sebagian dermis berupa proses inflamasi dan eksudasi. Ditantai dengan adanya bula. Terdiri dari:

  1. Dangkal/superfisial/superficial partial thickness

Kerusakan jaringan pada epidermis-dermis. Ditandai kemerahan, edema, dan nyeri. Luka lebih pucat jika terkena tekanan. Masih ditemukan folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea. Penyembuhan spontan dalam 10-14 hari tanpa sikatrik, namun warna kulit sering tidak sama dengan sebelumnya. Perawatan luka berupa pembalutan dan pemberian salep antibiotik.

  1. Dalam/deep partial thickness

Kerusakan jaringan terjadi hampir pada seluruh dermis. Ditandai dengan eritem, bula,nyeri namun tidak lebih sakit dari derajat 2A dan sebagian berwarna putih akibat variasi vaskularisasi. Folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea tinggal sedikit. Penyembuhan berkisar 3-9 minggu dan meninggalkan jarignan parut.

  1. Luka bakar derajat 3

Kerusakan jaringan meliputi seluruh tebal kulit hingga subkutis, otot dan tulang. Epitel tidak ada, bula tidak ditemukan, kulit yang terbakar berwarna keabu-abuan pucat hingga warna hitam kering(nekrotik). luka sering tidak nyeri. Penyembuhan lebih sulit karena tidak terjadi epitelialisasi spontan

Penatalaksanaan luka yang terbakar

Pertolongan pertama pada pasien dengan luka yang terbakar sebelum dibawa ke rumah sakit yaitu dengan cara menyingkirkan sumber luka bakar tanpa membahayakan penolong, kemudian penatalaksanaan mengikuti prinsip dasar resusitasi trauma:

  • lakukan survei primer singkat dan segera atasi permasalahan yang ditemukan.
  • singkirkan pakaian dan perhiasan yang melekat
  • jika pernapasan dan sirkulasi telah teratasi, lakukan survei sekunder

Airway dan breating

Managemen airway pada luka yang terbakar penting dilakukan karena dapat berakibat komplikasi yang serius. Kondisi yang serius terutama pada curiga adanya cedera inhalasi, luka bakar terjadi di ruang tertutup. Cedera inhalasi jarang terjadi di ruang terbuka atau ruangan dengan ventilasi yang baik. Tandanya berupa hilangnya rambut-rambut wajah dan sputum hitam. Pemberian oksigenasi >90% segera dilakukan. Bila perlu lakukan intubasi. Stidor dapat ditemukan dalam beberapa jam pada pasien dengan airway stabil.

Circulation

Akses cairan intravena dan pemberian resusitasi cairan sangat penting untuk segera dilakukan. Lokasi pemberian akses intavena adalah pada area kulit yang tidak mengalami luka yang terbakar, namun jika tidak mungkin maka dapat dilakukan pada luka yang terbakar. Pemberian akses intavena diberikan sebelum terjadinya edema jaringan yang menyebabkan kesulitan pemasangan infus. Pemasangan vena central dapat dipertimbangkan jika vena perifer tidak ditemukan. Cairan RL dan NaCl 0,9% tanpa glukosa dapat diberikan 1-2 akses intravena. Pemasangan kateter foley digunakan untuk memonitor produksi urin dan keseimbangan cairan

Evaluasi Lanjut

Selang nasogastric digunakan untuk dekompresi lambung dan jalur masuk makanan. Evaluasi semua denyut nadi perifer dan dinding thorax untuk kemungkinan timbulnya sinrom kompartemen terutama pada luka bakar sirkumferensial. Observasi menyeluruh pada edema jaringan terutama pada ekstremitas dan kemungkinan terjadinya gagal ginjal. Elevasi tungkai dapat dilakukana untuk mengurangi edema pada tungkai.

Dermato terapi pada luka bakar

Luka bakar menyebabkan hilangnya barrier pertahanan kulit sehingga memudahkan timbulnya koloni bakteri atau jamur pada luka, dengan adanya resiko penetrasi patogen ke jaringan yang lebih dalam dan pembuluh darah sehingga menyebabkan infeksi sistemik yang mengarah pada kematian. Pemberian terapi antimikroba topikal dalam bentuk salep atau cairan kompres/rendam seperti: silver sulfadiazine, mafenide acetate, silver nitrate, povidone-iodine, bacitracin, neomycin, polymyxin B dan antifungal nystatin, mupirocin dan preparat herbal seperti Moist exposed Burn Ointment/Therapy (MEBO/MEBT).

Anggowarsito, Jose. 2014. Luka Bakar Sudut Pandang Dermatologi. Jurnal Widya Medika Surabaya

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Baca Juga:

SIMAK YUK PENYEBAB LAKI-LAKI TIDAK BISA KHITAN!

SIMAK YUK PENYEBAB LAKI-LAKI TIDAK BISA KHITAN!

Khitan merupakan suatu tindakan menghilangkan atau memotong bagian kulup penis. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kesehatan sebagaimana dianjurkan dalam agama. Namun, ternyata tidak semua laki-laki dapat dapat dilakukan khitan. Apa saja yang menyebabkan laki-laki tidak dapat di khitan. Sebagi berikut:

  1. Hipospadi

Hipospadi merupakan keadaan dimana kelainan kongenital pada pria. Kelainan ini menyebabkan lubang kencing tidak berada pada tempat seharusnya. Pada keadaan normal lubang kencing berada di kepala penis bagian tengah. Pada pasien dengan hipospadi lubang kencing terletak pada bagian bawah penis sampai dengan penineum (tepi lubang anus) tergantung pada derajat keparahannya. Hispospadi terjadi akibat keterlambatan atau kegagalan pada saat penyatuan lipatan uretra di garis tengah selama perkembangan embrio.

  1. Epispadi

Epispadi adalah suatu kelainan kongenital yang terjadi pada pria hampir serupa dengan hipospadi. Hanya saja terdapat perbedaan yaitu pada epispadi lubang kencing terletak di bagian atas penis. Angka kejadiannya yaitu 1:120.000 pria, kasusnya lebih jarang dibandingan hipospadia. Baik pada hipospadia dan epispadia tidak dianjurkan untuk dilakukan khitan karena pada keadaan ini harus dilakukan rekonstruksi lubang kencing dengan menggunakan kulup yang akan di potong saat khitan. Hal inilah yang mendasari tidak boleh dilakukannya khitan pada hipospadi dan epispadi.

  1. Kelainan Hemostasis

Maksud kelainan hemostasis adalah kelainan yang berhubungan sengan jumlah dan fungsi daru trombosit, faktor pembekuan dan vaskuler. Trombosit berperan sebagai penyumbat pada saat terjadi pendarahan dalam tubuh. Jika jumlah trombosit berkurang (trombositopenia) akan menyebabkan terjadinya pendarahan yang masif. Komponen lain yaitu faktor pembekuan dan vaskuler merupakan komponen utama yang menjadi penggerak dalam mengurangi pendarahan dalam tubuh. Jika kelainan ini terjadi dan sirkumsisi dilakukan resiko pendarahan akan terjadi. Kelainan hemostasis yang sering terjadi adalah hemofilia.

  1. 4. Burried penis

Burried penis merupakan keadaan dimana kepala penis tenggelam tertutup dalam lapisan lemak. Penyebabnya sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Tapi sebagian besar didapatkan karena terbentuknya jaringan fibrous yang abnormal sehingga lapisan dartos menjadi tidak elastis. Sehingga mencegah pemanjangan penis ke arah depan dan menahan penis terbenam dibawah pubis. Perlu diperhatikan keadan kepala penis apakah tenggelam sebagian atau seluruhnya. Jika kepala penis tenggelam seluruhnya dan simpanan lemak pada sekitar area pre pubis banyak. Tidak di sarankan untuk khitan karena dapat menyebabkan komplikasi seperti kepala penis semakin terkubur, kesulitan BAK, bahkan sampai menyebabkan khitan ulang. Untuk mengatasinya dapat dengan menunggu terlebih dahulu sambil melakukan olahraga dan diet dengan harapan dapat mengurangai simpanan lemak di pre pubis. Jika tidak tindakan operatif dengan membuang sebagian simpanan lemak/lipectomy dapat dilakukan pada keadaan kepala penis tenggelam seluruhnya.

  1. 5. Web Penis

Web penis merupakan kelainan kongenital yang menyebakan terbentungkan hubungan/perlengketan antara kulit skrotum dengan bagian ventral dari penis, umumnya sampai dengan sulkus koronarius. Pada keadaan ini pilihan terbaik adalah dengan melakukan operasi rekonstruksi.

  1. Peroney Disease

Penyakit peyronie merupakan keadaan dimana pada penis bagian tunika albuinea terdapat plak fibrotic. Menyebabkan penis melengkung dan menyebabkan nyeri saat ereksi. Kelengkungan yang terjadi >60 derajat tidak dapat dilakukan khitan.

 

 

Duarsa et al. 2020. tatalaksana buried penis di RSUP Sanglah

Tangkudung, jerry et al. 2016. factor resiko hipospadi pada anak di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta

Husein, rahmat. 2020. tatalaksana penyakit peyronie

Singodimedjo, Prawito. 2006. Webbed Penis: Simple diagnosis and treatment

 

 

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Baca Juga:

YUK KENALI KELOID DAN HIPERTROFI PADA PENYEMBUHAN LUKA

YUK KENALI KELOID DAN HIPERTROFI PADA PENYEMBUHAN LUKA

Keloid merupakan suatu kelainan terbentuknya jaringan parut (scar) abnormal yang timbul sebagai akibat dari proses penyembuhan luka.

Keloid berupa jaringan skar yang tumbuh melebihi batas dari luka awal. Gejala umum yang biasa timbul adalah nyeri dan gatal. Hal ini disebabkan terutama karena sintesis dan degradasi kolagen yang tidak seimbang. Komponen yang menjadi pemicu dari pembentukan keloid adalah fibronektin dan glikosaminoglikan yang berlebihan.

Epidemiologi

Dinegara berkembang setiap tahunnya terdapat 100juta penderita dengan keluhan parut. Sekitar 55 juta kasus parut terjadi akibat luka pembedahan elektif dan 25 juta kasus parut terjadi pada pembedahan kasus trauma. Keloid dapat terjadi pada semua ras kecuali albino. Ras kulit hitam memiliki resiko hingga 15 kali lebih besar. Keloid lebih banyak mempengaruhi etnik Afrika, Asia dan Amerika Latin. Kerentanan secara genetik meningkatkan risiko keloid lebih besar 15% dibandingkan dengan populasi. Angka kejadian keloid lebih tinggi saat masa pubertas dan kehamilan dan menurun pada masa menopause. Hormon juga diduga memiliki peranan.

Faktor penyebab risiko dari keloid diduga berkaitan dengan beberapa hal. Riwayat keloid pada keluarga akan meningkatkan insiden keloid. Gen yang diduga berperan adalah HLA-B14, HLA-B21, HLA-BW16, HLA-BW35, HLA-DR5 dan HLA-DQW3.

Patofisiologi

Fase inflamasi yang mengalami pemanjangan merupakan penyebab dari timbulnya keloid maupun scar hipertrofik. Meningkatnya sel imun pada keloid meningkatkan aktivitas fibroblas dan terus terjadi pembentukan matriks ekstraseluler. Hal ini diduga kuat menjadi penyebab scar timbul melebihi batas luka pada keloid. Berbeda dengan scar hipertrofik, sel imun akan perlahan menurun sehingga memungkinkan terjadinya regresi.

Teori lain menyebutkan bahwa TGF-B memiliki peranan untuk terbentuknyya kelainan jaringan ini. Baik TGF-B1 atau TGF-B2 merupakan stimulan untuk sintesis kolagen dan proteoglikan serta mempengaruhi matrik ekstraseluler yang bukan hanya meningkatkan sintesis kolagen tapi juga menghambat pemecahannya.

Teori lain menyatakan bahwa apoptosis juga menyebabkan kelainan fibrosis. Pada fase awal terbentuknya scar hipertrofik terjadi hiperseluler dan pada fase remodeling sel fibroblas berkurang dan perlahan menjadi scar normal melalui proses apoptosis. Kelainan di fase apoptosis ini dapat menyebabkan kelainan jaringan.

Gejala klinis

Scar hipertrofik terbentuk mulai minggu ke-4 hingga ke-6 pasca luka dan tumbuh cepat hingga 6 bulan. Setelah itu akan mengalami regresi hingga terbentuk jaringan normal. Sedangkan pada keloid scar terus bertumbuh dan cenderung menetap.

Scar hipertrofik biasanya didahului dengan trauma dan luas scar tidak melebihi luas luka. Pembedahan menjadi pilihan penanganan yang baik.

Scar pada keloid bisa lebih luas dari area lukanya. Pembedahan akan menyebabkan perluasan scar akibat luka operasi.

Keloid dapat menjadi masalah fisik dan psikologis. Masalah fisik dapat berupa gatal, kulit kaku, kontrktur dan nyeri. Masalah psikologi meliputi gangguan percaya diri, kecemasan dan depresi.

Artikel Jagoan Khitan

Tatalaksana

Menghindari terjadinya luka berlebih merupakan tetap menjadi solusi terbaik dari pencegahan keloid. Semua terapi berikut dapat diaplikasikan baik pada scar hipertrofik maupun keloid. Namun, perlu diperhatikan perbedaan klinis antara keduanya. Terapi keloid lini pertama adalah injeksi kortikosteroid intralesi, tetapi lebih menunjukan hasil pada keloid yang kecil dan masih tahap awal. Terapi lini kedua adalah bedah eksisi, perlu dipertimbangkan apabila keloid tidak membaik setelah mendapat terapu lini pertama selama 12 bulan. Terapi bedah tidak dianjurkan sebagai terapi tunggal karena angka kekambuhan 50-100% bahkan dapat menyebabkan perluasan keloid. Terapi lini kedua yang lain adalah laser.

  1. Terapi tekan

Masih kontroversial dalam hal keefektifannya. Mekanisme dari terapi ini yaitu dengan memberikan tekanan, maka sintesis kolagen menurun karena terbatasnya suplai darah dan oksigen, serta nutrisi ke jaringan scar dan apoptosis diharapkan meningkat. Tekanan kontinue (15-40 mmHg) diberikan minimal 23 jam dan atau 1 hari selama 6 bulan atau selama scar masih aktif. Terapi ini memiliki kelemahan karena sering menyebabkan maserasi, eksema, ataupun bau tidak sedap karena penggunaan bahan kain. Terapi ini cenderung berhasil lebih baik pada anak-anak.

  1. Silicone Gel Sheeting

Terapi ini bekerja dengan meningkatkan temperatur parut 1-2 derajat dari suhu tubuh, hal ini akan mengakibatkan peningkatan aktivitas kolagenase. Anjuran penggunaan >_12 jam dan atau 1 hari dimulai sejak 2 minggu pasca penyembuhan luka. Penggunaan terapi ini sering dipakai pada area yang sering bergerak.

  1. Extractum Cepae

Memiliki turunannya quercetin. Memiliki efek anti inflamasi, anti bakterial dan fibrinolitik sehingga mampu menghambat proliferasi fibroblas dan produksi kolagen pada keloid dan scar hipertrofik. Zat ini banyak ditemukan pada bawang, apel, anggur merah dan teh hitam. Penggunaan topikal diberikan pasca tindakan laser untuk menghilangkan tatto dan sering digunakan sebagai terapi pencegahan terutama pasca tindakan bedah.

  1. Injeksi Kortikosteroid

Bekerja dengan cara mensupresi proses inflamasi luka. Selain itu, mampu mengurangi sintesis kolagen dan glikosaminoglikan, menghambat pertumbuhan fibroblast dan meningkatkan degradasi kolagen dan fibroblas. Injeksi intralesi menggunakan triamnicolon acetonide (TAC) 10-40mg/ml diulang setiap 3-4 minggu dapat dilakukan hingga 6 bulan memberikan hasil cukup baik. Lebih maksimal pada scar yang baru. Untuk scar lama hanya mengurangi sampai ukuran yang lebih kecil.

  1. Cryotherapy

Dapat sebagai terapi tunggal ataupun kombinasi dengan injeksi kortikosteroid. Untuk hasil yang lebih maksimal. Untuk kombinasi dilakukan cryotheraphy dulu kemudian injeksi steroid. Cryo menyebabkan kerusakan vaskuler sehingga terjadi anoksia dan nekrosis jaringan.

  1. Revisi scar

Sebelum tindakan bedah harus dipastikan apakah ini merupakan scar hipertrofik dan keloid. Pada penanganan scar hipertrofi, scar <1 tahun masih dapat menunjukan perbaikan tanpa manipulasi. Tingkat rekurensi setelah bedah pada scar hipertrofik lebih kecil. Berbeda dengan keloid tingkat rekurensi 45-100%.

  1. Radioterapi

Superficial x-rays, electron-beam terapi dan brachytherapy dosis rendah atau tinggi memberikan hasil yang cukup baik. Prinsip kerjanya yaitu dengan menghambat neovaskularisasi dan proliferasi fibroblas sehingga produksi kolagen menurun. Terapi sebaiknya dimulai sejak 24-48 jam pasca tindakan dengan dosis total 40 gy untuk mencegah efek samping hipo/hiperpigmentasi, eritema, telengiektasis dan atrofi.

  1. Laser

Terapi 585-nm pulse dye laser (PDL) sangat dianjurkan untuk terapi scar hipertrofik ataupun keloid. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya diulangi hingga 2-6 kali. Dengan panas yang merusak kolagen terapi ini dipercaya dapat membentuk kolagenesis baru. Berhati-hati dengan efek samping hipo/hiperpigmentasi serta blister. Sering terjadi purpura pasca terapi yang bertahan hingga 7-10 hari. Terapi 1064-nm neodym, serupa dengan PDL namun, terapi dilakukan 5-10 kali dengan interval 1-2 minggu.

  1. Injeksi interferon

Salah satu terapi yang cukup baik karena IFN dapat mengurangi sitesis kolagen tipe 1 dan 2. INF-a2b memiliki efek antagonis terhadap TGF-b dan histamin. Penyuntikan intralesi 2 kali sehari selama 4 hari mampu mengurangi ukuran scar hingga 50% dihari ke-9.

  1. Injeksi doxorubicin

Memilki cara kerja menghambat sintesis kolagen dengan menghambat enzim prolidase yang memiliki peranan untuk resintesis kolagen.

  1. Injeksi verapamil

Merupakan golongan CCB untuk menghambat sintesis dari matriks ekstraseluler dan meningkatkan proses fibrinase.

  1. Bleomycin sulfate

Bekerja dengan langsung menghambat sintesis kolagen melalui mekanisme penghambatan TGF-B1. penyuntikan intralesi sebanyak 3-5 kali dalam 1 bulan terbukti menurunkan 69,4% keloid. Namun memiliki efek samping hiperpigmentasi dan atrofi dermal.

  1. 5-fluorouracil

Merupakan zat kemoterapi dengan meningkatkan apoptosis fibroblas. Injeksi setiap minggu selama 12 minggu berhasil mengurangi scar hingga 50% pada rata-rata pasien tanpa kegagalan dan rekuren dalam 24 bulan kemudian.

  1. Botulinum Toxin A (BTA)

Bekerja menghambat mobilisasi otot dan mengurangi tegangan kulit, sehingga dapat mengurangi mikrotrauma dan inflamasi. Uji coba injeksi 15 U BTA sepanjang garis operasi dengan jarak setiap 2 cm pada 24 jam pasca penutupan luka berhasil cukup baik.

Sinto, Linda. 2018. Scar hipertrofik dan keloid: Patofisiologi dan penatalaksanaan.

Rachmantyo, Brama et al. 2018. perbandingan terapi kombinasi laser CO2-injeksi triamnisolon dengan injeksi triamnisolon monoterapi pada keloid

Betarbet, udayan et al. 2020. Keloids: A review of etiology, prevention and treatment

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Baca Juga:

CARA MEMOTIVASI ANAK AGAR TIDAK TAKUT KHITAN

CARA MEMOTIVASI ANAK AGAR TIDAK TAKUT KHITAN

artikel jagoan khitan

Salah satu ketakutan anak yang paling besar adalah ketika anak akan berkhitan. Ketakutan ini sebenarnya di dasarkan dari pengalaman orang terdahulu yang mendoktrin anak bahwa khitan itu sakit karena menggunakan suntikan dan memotong dengan gunting. Sehingga pikiran anak menjadi tersetting bahwa tindakan ini sakit.

Memang pada zaman dahulu berkhitan dengan menggunakan peralatan sederhana dan terbatas. Sehingga pada zamannya tindakan ini lebih menimbulkan sakit. Namun, seiring berkembangnya teknologi dan ditemukannya berbagai peralatan yang menunjang untuk khitan. Kini berkhitan tidak lagi menggunakan jarum, tidak sakit dan menakutkan. Namun, beberapa anak masih saja ketakutan dikarenakan dari sisi psikologis anak sedari awal sudah memiliki kecenderungan rasa takut yang besar.

Tugas dari orang tua yaitu harus mempersiapkan mental anak agar berani dan bisa di khitan tanpa suatu paksaan. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:

  1. Memberikan hadiah

Anak cenderung mau untuk melakukan sesuatu biasanya harus dibujuk dengan menggunakan hadiah. Hal inilah yang mendasari memberikan hadiah adalah cara yang efektif untuk membujuk anak berkhitan. Hadiah dapat berupa mainan, uang, sepatu, sepeda atau liburan suatu hal yang disukai oleh anak. Anggap saja hadiah ini sebagai reward karena sudah berani berkhitan.

  1. Mengatakan hal-hal yang positif

Perlu memberikan pengertian kepada anak dengan jujur bahwa berkhitam memang sakit. Hanya saja sakitnya hanya ketika pemberian bius awal, rasanya seperti di gigit semut/di cubit. Orang tua harus bisa memberikan motivasi seperti tersebut agar anak mau berkhitan. Orang tua juga dapat memberikan kata-kata positif seperti “kakak kan anak berani pasti tidak takut di khitan” atau Tuh, lihat. Teman adik yang kemarin disunat saja berani dan tidak nangis, kok. Adik juga pasti bisa”

  1. Jangan mengancam anak

Disadari atau tidak, rasa takut berkhitan sering diakibatkan karena sudah di setting oleh lingkungan external anak. Kadang ketika anak rewel atau nakal orang tua sering melontarkan kata “kalo rewel nanti disunat” ini menjadi suatu media untuk menghukum anak dan menimbulkan kesan takut di khitan. Meski terlihat sepele, kalimat ini menimbulkan pengertian lain dalam diri anak dan menimbulkan kesan bahwa berkhitan itu sakit.

  1. Jangan memaksa anak

Jangan memaksakan anak jika tidak ingin di khitan. Mengapa? Karena mental anak akan terpengaruhi dan semakin takut berkhitan. Orang tua dapat menunggu anak sampai bersedia sembari memberikan pengertian secara pelan-pelan. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan buku atau tontonan-tontonan yang berhubungan dengan khitan agar anak bisa tahu sebenarnya seperti apa khitan itu.

  1. Memberikan pengertian

Memberikan pengertian bahwa khitan merupakan perintah agama dan wajib bagi seorang muslim laki-laki. Berhitan juga merupakan suatu bentuk ketakwaan seorang muslin yang merupakan perintah langsung dari Allah dan Rasulnya.

Itulah berberapa motivasi dan tips agar anak mau berkhitan tanpa rewel dan ketakutan.

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Baca Juga:

MANDI PASCA KHITAN

MANDI PASCA KHITAN

Artikel Kesehatan - Jagoan Khitan - Rekomendasi Khitan Terbaik Cirebon

Prosedur khitan adalah tindakan untuk menghilangkan kulup dari penis dengan cara membuat luka pada kulup sehingga terbentuklah luka pasca khitan. Luka ini kemudian perlu dilakukan perawatan yang intens untuk mempercepat proses penyembuhan luka khitan. Namun, dimasyarakat masih banyak yang bertanya-tanya tentang apakah boleh setelah khitan mandi atau tidak boleh sama sekali untuk mempercepat proses penyembuhan?

Setelah khitan anak biasanya dianjurkan untuk tidak terkena air selama 3 hari awal. Namun, faktanya anak haruslah mandi sejak hari pertama. Mengapa demikian karena jika anak dibiarkan tidak mandi sampai dengan luka khitan sembuh akan membuat tubuh anak dipenuhi oleh kotoran dan bakteri yang malah bisa membuat tubuh tidak higenis. Dan jika sampai bakteri masuk kedalam luka sunat maka akan memperlama proses penyembuhan luka sunat.

Proses pemotongan lapisan kulit pada penis yang dilakukan saat khitan memang merupakan prosedur sederhana. Meski begitu perawatan pasca sunat tetap harus diperhatikan. Selain mengatur menu makanan, konsumsi obat (jika dibutuhkan) hingga proses pembersihan harus dilakukan dengan penuh ketelatenan. Selain untuk mencegah infeksi, perawatan harus benar agar luka cepat sembuh. 

Nah mandi seperti apa yang dianjurkan?

Mandi yang dimaksud yaitu dengan menggunakan trik tertentu atau biasa disebut mandi cerdas. Beberapa tehnik yang bisa digunakan seperti:

  1. Gunakan kain lap

Cara melakukannya adalah dengan mengunakan kain handuk yang sudah dibasahi dengan air. Kemudian di lap pada area sekitar tubuh, kecuali pada kemaluan. Nah ini berbeda dengan mandi yang konvensional yaitu mandi dengan gayung/shower yang di siramkan langsung ke badan dan beresiko mengenai kemaluan.

  1. Mandi dengan melindungi kemaluan dengan alat

Jika ingin mandi secara konvensional juga tetap bisa yaitu dengan cara memasang alat pelindung pada kemaluan agar air tidak mengenai kemaluan. Alat bisa berupa celana atau pelindung yang diikatkan ke pinggang dan seperti payung, bahkan di jaman sekarang ini sudah ada celana dalam dari plastik sehingga anak bisa mandi dengan nyaman.

  1. Menggunakan air hangat

Mengapa dianjurkan menggunakan air hangat karena air hangat/air yang sudah melewati proses pemanasan akan terbebas dari bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada luka khitan. Penggunaan air hangat juga akan menimbulkan efek relax pada anak sehingga lebih nyaman ketika mandi. Jika air tidak sengaja terciprat ke luka khitan tidak usah khawatir cukup keringkan dengan kassa air yang mengenai luka.

Perlu diketahui sebelumnya, orang tua harus terlebih dahulu menjelaskan cara merawat luka pada anak walaupun tetap orang tua melakukan pengawasan secara langsung. Dengan diberikannya pengetahuan itu diharapkan tidak akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti kemaluan terluka, jahitan lepas, perdarahan, hingga yang paling parah mengalami infeksi. Terdapat beberapa metode khitan yang malah dianjurkan mandi secara konvensinal sejak hari pertama contohnya metode klamp. Karena luka khitan terlindungi oleh klamp maka sudah bisa terkena air

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Baca Juga:

INFEKSI PADA ANAK

INFEKSI PADA ANAK

infeksi pada anak - artikel jagoan khitan

Infeksi bakteri yang paling sering terjadi pada anak adalah infeksi saluran kemih. Angka kejadian rekurensinya 30% baik pada bayi dan anak akan mengalami ISK kedua setelah 6-12 bulan setelah ISK pertama. Pada anak yang mrngalami kelainan struktur saluran kemih ISK dapat menjadi salah satu tanda awal gejalanya.

ISK diartikan sebagai terkumpulnya suatu kolonialisasi patogen dalam saluran kemih baik di ginjal, ureter, vesica urinaria dan uretra. Tingkat kejadian ISK anak sangat sulit ditentukan karena beragam gejala yang timbul. Mulai dari tanpa gejala sampai dengan urosepsis. Data dari urologic disease in america project menyatakan bahwa ISK pada anak merupakan beban kesehatan yang signifikan. Infeksi traktus urinarius mempengaruhi 2,4-2,8% anak per tahun dan lebih dari 1,1 juta kunjungan poliklinik tiap tahun.

ISK terjadi diakibatkan adanya suatu patogen dalam traktus urinarius. Patogennya dapat berupa jamur, parasit, virus dan bakteri. Bakteri E.Coli merupakan uropatogen yang paling sering menyebabkan ISK dan bakteri ini berasal dari saluran cerna.

tabel 1 - patogen saluran kemih - jagoan khitan

Terdapat klasifikasi dari ISK pada anak yaitu sebagai berikut:

  1. Klasifikasi sesuai lokasi

  • Sistitis, merupakan infeksi pada mukosa vesica urinaria. Gejala berupa disuria, stranguria, frekuensi, urgensi, urin berbau busuk, inkontinensia, hematuria, nyeri supra pubik.
  • Pielonefritis, merupakan infeksi pada parenkim ginjal. Gejala berupa demam (>38C), gejala tidak spesifik (rewel, tidak nafsu makan, gagal tumbuh, muntah, diare, letargi)
  1. Klasifikasi berdasarkan episode

Infeksi pertama, infeksi rekuren (unresolved, persisten, reinfeksi)

tabel 2 - klasifikasi infeksi saluran kemih - jagoan khitan
  1. Klasifikasi berdasarkan gejala

  • Bakteriuria asimtomatik hal ini bisa terjadi karena host merespon patogen dengan baik atau dibantu oleh bakteri nonvirulen sehingga patogen melemah dan tidak menimbulkan gejala.
  • Bakteriuria simtomatik terdiri dari gejala iritatif, nyeri suprapubik, demam dan malaise.
  1. Klasifikasi berdasarkan faktor yang mempersulit

  • ISK simplex (uncomplicated), suatu infeksi pada traktus urinarius dengan keadaan morfologi, fungsi, fungsi ginjal, sistem imun yang baik.
  • ISK komplex (complicated), suatu infeksi pada bayi baru lahir, pada pasien dengan bukti pielonefritis dan pada anak dengan obstruksi mekanis atau fungsi atau masalah pada traktus urinarius atas dan bawah.

Diagnosis

  • Tanda dan gejala
  1. Demam
  2. Disuria
  3. Stranguria
  4. Frekuensi
  5. Urgency
  6. Urin berbau busuk
  7. Inkontinensia
  8. Hematuria
  9. Nyeri supra pubik
  10. Nyeri pinggang
  • Sampel urin, analisis dan kultur
  1. Sampel urin

Terdapat 4 metode memperoleh urin dari bayi dan anak non-toilet training:

  1. Kantong plastik ditempelkan pada genital yang sudah dibersihkan
  2. Clean catch urine, kontainer kecil diletakan dibawah genital. Perlu banyak waktu dan instruksi pada orang tua. Tingkat kontaminasi 26%
  3. Kateterisasi, namun tingkat kontaminasi tinggi
  4. Aspirasi suprapubik, paling aman untuk menghindari kontaminasi. Memerlukan bantuan USG sebagai panduan
  5. Pada anak dengan toilet training, sampel urin midstream dapat dilakukan.
  1. Analisis

Dipstik dan mikroskopis merupakan metode yang paling sering untuk analisis urin. Dipstik digunakan untuk menilai nitrit, leukosit esterase, protein, glukosa, darah. Sedangkan mikroskopik untuk memeriksa bakteriuria dan piuria.

  1. Kultur

Jika dipstik dan urinalisis hasilnya positif maka wajib melakukan kultur untuk menegakan ISK.

tabel 3 - kriteria infeksi - jagoan khitan
  • Pemeriksaan darah

Pemeriksaan DL dan elektrolit harus dilakukan pada ISK dengan demam. Procalcitonin dapat dijadikan sebagai marker.

  • Pemeriksaan pencitraan

Dilakukan setelah resolusi infeksi akut.

tabel 4 - ultrasonografi - jagoan khitan

TATALAKSANA

  1. Bakteriuria asimtomatik

Pada bakteriuria asimtomatik tanpa adanya leukosituria, pemberian antibiotik harus dihindari kecuali ISK menyebabkan masalah atau sedang dalam persiapan pembedahan. Jika terdapat anak dengan bakteriuria asimtomatik tanpa adanya malformasi dari traktus urinarius disarankan melakukan pemantauan secara periodik tanpa pemberian obat antibiotik.

  1. Sistitis pada anak >3 bulan

Pemeberian antibiotik empiris disarankan. Seperti nitrofurantoin, trimethoprim-sulfamethoxazole, amoxicillin clavulanate, sulfonamide, cephalosporin. Berdasarkan pola resistensi kuman amoxicilin dan cephalosporin generasi pertama tidak disarankan untuk terapi empiris.

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Baca Juga: