Ini Dia Tips Mengobati Luka Bakar Akibat ALiran Listrik, Simak Yuk!

Ini Dia Tips Mengobati Luka Bakar Akibat ALiran Listrik, Simak Yuk!

Luka bakar merupakan suatu bentuk kerusakan ataupun kehilangan jaringan yang dapat disebabkan oleh panas (api, cairan/lemak panas, dan uap panas), radiasi, listrik, kimia. Luka yang terbakar merupakan jenis trauma yang merusak dan mengubah berbagai sistem tubuh. Luka yang terbakar timbul ketika terjadi sentuhan antara permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Listrik merupakan salah satu bentuk energi yang berhubungan dengan pergerakan dan interaksi antar elektron. Amper merupakan satuan yang digunakan untuk tingkat pergerakan elektron. Setiap 6.242×1018 elektron melewati 1 detik, 1 amper telah terlewati. Pada masa kini hal tersebut dapat membunuh atau melukai seseorang dan menimbulkan luka listrik. 1 amper sama dengan kekuatan untuk mengaliri arus listris bola lampu 100 watt.

Sengatan listrik adalah suatu reaksi fisiologis yang ditandai dengan adanya nyeri dan spasme otot, akibat adanya kontak dengan sumber listrik dan penjalaran arus listrik ke seluruh tubuh. Tubuh manusia merupakan konduktor (perantara) yang baik bagi listrik. Luka bakar, kerusakan organ dalam, gangguan irama jantung, dan bahkan kematian dapat di sebabkan oleh sengatan listrik ini.

Patofisiologi

Adanya paparan panas yang mengenai pada permukaan kulit menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah kapiler kulit dan peningkatan permeabilitasnya. Peningkatan permeabilitas akan menimbulkan reaksi edema jaringan dan pengurangan cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka yang terbakar bakar menimbulkan kehilangan cairan karena terjadi penguapan cairan berlebihan di derajat 1, penumpukan cairan pada bula luka bakar derajat 2, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat 3.

Jika luka bakar yang ditimbulkan < 20% biasanya masih terkonpensasi oleh keseimbangan tubuh. Namun, bila >20%, akan meningkatnya resiko syok hipovolemia ditandai dengan adanya gelisah, pucat, dingin, nadi lemah dan cepat serta penurunan tekanan darah dan produksi urin. Kulit manusia hanya dapat mentoleransi panas pada suhu 44oC (111oF) selama 6 jam sebelum akhirnya akan menimbulkan cedera termal.

Fase luka bakar

Terdapat fase-fase dalam luka bakar yaitu:

  1. Fase akut/syok/awal

fase ini dimulai ketika pasien mulai datang di Instalasi Gawat Darurat (IGD)/unit luka bakar. Pasien biasanya akan mengalami ancaman berupa gangguan airway (jalan napas), breating (mekanisme bernapas) dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway dapat timbul segera ataupun beberapa saat setelah trauma. Obstruksi jalan napas dapat terjadi 48-72 jam paska trauma pada cedera inhalasi. Gangguan keseimbangan baik cairan dan elektrolit dapat menyebabkan syok hipovolemia.

  1. Fase subakut/flow/hipermetabolik

Fase berlangsung setelah syok teratasi. Problem yang timbul pada fase ini dapat berupa terjadinya proses inflamasi atau infeksi pada luka bakar, problem penutupan luka dan keadaan yang hipermetabolisme.

  1. Fase Lanjut

Pasien dinyatakan sembuh dan boleh kontrol rawat jalan. Permasalahan yang timbul di fase ini beruoa terbentuknya kelainan/penyulit seperti jaringan parut hipertrofik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

Derajat luka bakar

Luka bakar di identifikasi tergantung dari derajat sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan permukaan tubuh. Dibagi menjadi:

  1. Luka bakar derajat 1

Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (superfisial)/epidermal burn. Ditandai dengan gejala eritema, sedikit edema, tidak ada bula, dan nyeri. Pada hari ke 4 sering dijumpai deskuamasi. Pemberian salep antibiotik dan pelembab kulit dapat diberikan dan tidak perlu pembalutan.

  1. Luka bakar derajat 2

Kerusakan terjadi meliputi epidermis dan sebagian dermis berupa proses inflamasi dan eksudasi. Ditantai dengan adanya bula. Terdiri dari:

  1. Dangkal/superfisial/superficial partial thickness

Kerusakan jaringan pada epidermis-dermis. Ditandai kemerahan, edema, dan nyeri. Luka lebih pucat jika terkena tekanan. Masih ditemukan folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea. Penyembuhan spontan dalam 10-14 hari tanpa sikatrik, namun warna kulit sering tidak sama dengan sebelumnya. Perawatan luka berupa pembalutan dan pemberian salep antibiotik.

  1. Dalam/deep partial thickness

Kerusakan jaringan terjadi hampir pada seluruh dermis. Ditandai dengan eritem, bula,nyeri namun tidak lebih sakit dari derajat 2A dan sebagian berwarna putih akibat variasi vaskularisasi. Folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea tinggal sedikit. Penyembuhan berkisar 3-9 minggu dan meninggalkan jarignan parut.

  1. Luka bakar derajat 3

Kerusakan jaringan meliputi seluruh tebal kulit hingga subkutis, otot dan tulang. Epitel tidak ada, bula tidak ditemukan, kulit yang terbakar berwarna keabu-abuan pucat hingga warna hitam kering(nekrotik). luka sering tidak nyeri. Penyembuhan lebih sulit karena tidak terjadi epitelialisasi spontan

Penatalaksanaan luka yang terbakar

Pertolongan pertama pada pasien dengan luka yang terbakar sebelum dibawa ke rumah sakit yaitu dengan cara menyingkirkan sumber luka bakar tanpa membahayakan penolong, kemudian penatalaksanaan mengikuti prinsip dasar resusitasi trauma:

  • lakukan survei primer singkat dan segera atasi permasalahan yang ditemukan.
  • singkirkan pakaian dan perhiasan yang melekat
  • jika pernapasan dan sirkulasi telah teratasi, lakukan survei sekunder

Airway dan breating

Managemen airway pada luka yang terbakar penting dilakukan karena dapat berakibat komplikasi yang serius. Kondisi yang serius terutama pada curiga adanya cedera inhalasi, luka bakar terjadi di ruang tertutup. Cedera inhalasi jarang terjadi di ruang terbuka atau ruangan dengan ventilasi yang baik. Tandanya berupa hilangnya rambut-rambut wajah dan sputum hitam. Pemberian oksigenasi >90% segera dilakukan. Bila perlu lakukan intubasi. Stidor dapat ditemukan dalam beberapa jam pada pasien dengan airway stabil.

Circulation

Akses cairan intravena dan pemberian resusitasi cairan sangat penting untuk segera dilakukan. Lokasi pemberian akses intavena adalah pada area kulit yang tidak mengalami luka yang terbakar, namun jika tidak mungkin maka dapat dilakukan pada luka yang terbakar. Pemberian akses intavena diberikan sebelum terjadinya edema jaringan yang menyebabkan kesulitan pemasangan infus. Pemasangan vena central dapat dipertimbangkan jika vena perifer tidak ditemukan. Cairan RL dan NaCl 0,9% tanpa glukosa dapat diberikan 1-2 akses intravena. Pemasangan kateter foley digunakan untuk memonitor produksi urin dan keseimbangan cairan

Evaluasi Lanjut

Selang nasogastric digunakan untuk dekompresi lambung dan jalur masuk makanan. Evaluasi semua denyut nadi perifer dan dinding thorax untuk kemungkinan timbulnya sinrom kompartemen terutama pada luka bakar sirkumferensial. Observasi menyeluruh pada edema jaringan terutama pada ekstremitas dan kemungkinan terjadinya gagal ginjal. Elevasi tungkai dapat dilakukana untuk mengurangi edema pada tungkai.

Dermato terapi pada luka bakar

Luka bakar menyebabkan hilangnya barrier pertahanan kulit sehingga memudahkan timbulnya koloni bakteri atau jamur pada luka, dengan adanya resiko penetrasi patogen ke jaringan yang lebih dalam dan pembuluh darah sehingga menyebabkan infeksi sistemik yang mengarah pada kematian. Pemberian terapi antimikroba topikal dalam bentuk salep atau cairan kompres/rendam seperti: silver sulfadiazine, mafenide acetate, silver nitrate, povidone-iodine, bacitracin, neomycin, polymyxin B dan antifungal nystatin, mupirocin dan preparat herbal seperti Moist exposed Burn Ointment/Therapy (MEBO/MEBT).

Anggowarsito, Jose. 2014. Luka Bakar Sudut Pandang Dermatologi. Jurnal Widya Medika Surabaya

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Baca Juga:

YUK KENALI KELOID DAN HIPERTROFI PADA PENYEMBUHAN LUKA

YUK KENALI KELOID DAN HIPERTROFI PADA PENYEMBUHAN LUKA

Keloid merupakan suatu kelainan terbentuknya jaringan parut (scar) abnormal yang timbul sebagai akibat dari proses penyembuhan luka.

Keloid berupa jaringan skar yang tumbuh melebihi batas dari luka awal. Gejala umum yang biasa timbul adalah nyeri dan gatal. Hal ini disebabkan terutama karena sintesis dan degradasi kolagen yang tidak seimbang. Komponen yang menjadi pemicu dari pembentukan keloid adalah fibronektin dan glikosaminoglikan yang berlebihan.

Epidemiologi

Dinegara berkembang setiap tahunnya terdapat 100juta penderita dengan keluhan parut. Sekitar 55 juta kasus parut terjadi akibat luka pembedahan elektif dan 25 juta kasus parut terjadi pada pembedahan kasus trauma. Keloid dapat terjadi pada semua ras kecuali albino. Ras kulit hitam memiliki resiko hingga 15 kali lebih besar. Keloid lebih banyak mempengaruhi etnik Afrika, Asia dan Amerika Latin. Kerentanan secara genetik meningkatkan risiko keloid lebih besar 15% dibandingkan dengan populasi. Angka kejadian keloid lebih tinggi saat masa pubertas dan kehamilan dan menurun pada masa menopause. Hormon juga diduga memiliki peranan.

Faktor penyebab risiko dari keloid diduga berkaitan dengan beberapa hal. Riwayat keloid pada keluarga akan meningkatkan insiden keloid. Gen yang diduga berperan adalah HLA-B14, HLA-B21, HLA-BW16, HLA-BW35, HLA-DR5 dan HLA-DQW3.

Patofisiologi

Fase inflamasi yang mengalami pemanjangan merupakan penyebab dari timbulnya keloid maupun scar hipertrofik. Meningkatnya sel imun pada keloid meningkatkan aktivitas fibroblas dan terus terjadi pembentukan matriks ekstraseluler. Hal ini diduga kuat menjadi penyebab scar timbul melebihi batas luka pada keloid. Berbeda dengan scar hipertrofik, sel imun akan perlahan menurun sehingga memungkinkan terjadinya regresi.

Teori lain menyebutkan bahwa TGF-B memiliki peranan untuk terbentuknyya kelainan jaringan ini. Baik TGF-B1 atau TGF-B2 merupakan stimulan untuk sintesis kolagen dan proteoglikan serta mempengaruhi matrik ekstraseluler yang bukan hanya meningkatkan sintesis kolagen tapi juga menghambat pemecahannya.

Teori lain menyatakan bahwa apoptosis juga menyebabkan kelainan fibrosis. Pada fase awal terbentuknya scar hipertrofik terjadi hiperseluler dan pada fase remodeling sel fibroblas berkurang dan perlahan menjadi scar normal melalui proses apoptosis. Kelainan di fase apoptosis ini dapat menyebabkan kelainan jaringan.

Gejala klinis

Scar hipertrofik terbentuk mulai minggu ke-4 hingga ke-6 pasca luka dan tumbuh cepat hingga 6 bulan. Setelah itu akan mengalami regresi hingga terbentuk jaringan normal. Sedangkan pada keloid scar terus bertumbuh dan cenderung menetap.

Scar hipertrofik biasanya didahului dengan trauma dan luas scar tidak melebihi luas luka. Pembedahan menjadi pilihan penanganan yang baik.

Scar pada keloid bisa lebih luas dari area lukanya. Pembedahan akan menyebabkan perluasan scar akibat luka operasi.

Keloid dapat menjadi masalah fisik dan psikologis. Masalah fisik dapat berupa gatal, kulit kaku, kontrktur dan nyeri. Masalah psikologi meliputi gangguan percaya diri, kecemasan dan depresi.

Tatalaksana

Menghindari terjadinya luka berlebih merupakan tetap menjadi solusi terbaik dari pencegahan keloid. Semua terapi berikut dapat diaplikasikan baik pada scar hipertrofik maupun keloid. Namun, perlu diperhatikan perbedaan klinis antara keduanya. Terapi keloid lini pertama adalah injeksi kortikosteroid intralesi, tetapi lebih menunjukan hasil pada keloid yang kecil dan masih tahap awal. Terapi lini kedua adalah bedah eksisi, perlu dipertimbangkan apabila keloid tidak membaik setelah mendapat terapu lini pertama selama 12 bulan. Terapi bedah tidak dianjurkan sebagai terapi tunggal karena angka kekambuhan 50-100% bahkan dapat menyebabkan perluasan keloid. Terapi lini kedua yang lain adalah laser.

  1. Terapi tekan

Masih kontroversial dalam hal keefektifannya. Mekanisme dari terapi ini yaitu dengan memberikan tekanan, maka sintesis kolagen menurun karena terbatasnya suplai darah dan oksigen, serta nutrisi ke jaringan scar dan apoptosis diharapkan meningkat. Tekanan kontinue (15-40 mmHg) diberikan minimal 23 jam dan atau 1 hari selama 6 bulan atau selama scar masih aktif. Terapi ini memiliki kelemahan karena sering menyebabkan maserasi, eksema, ataupun bau tidak sedap karena penggunaan bahan kain. Terapi ini cenderung berhasil lebih baik pada anak-anak.

  1. Silicone Gel Sheeting

Terapi ini bekerja dengan meningkatkan temperatur parut 1-2 derajat dari suhu tubuh, hal ini akan mengakibatkan peningkatan aktivitas kolagenase. Anjuran penggunaan >_12 jam dan atau 1 hari dimulai sejak 2 minggu pasca penyembuhan luka. Penggunaan terapi ini sering dipakai pada area yang sering bergerak.

  1. Extractum Cepae

Memiliki turunannya quercetin. Memiliki efek anti inflamasi, anti bakterial dan fibrinolitik sehingga mampu menghambat proliferasi fibroblas dan produksi kolagen pada keloid dan scar hipertrofik. Zat ini banyak ditemukan pada bawang, apel, anggur merah dan teh hitam. Penggunaan topikal diberikan pasca tindakan laser untuk menghilangkan tatto dan sering digunakan sebagai terapi pencegahan terutama pasca tindakan bedah.

  1. Injeksi Kortikosteroid

Bekerja dengan cara mensupresi proses inflamasi luka. Selain itu, mampu mengurangi sintesis kolagen dan glikosaminoglikan, menghambat pertumbuhan fibroblast dan meningkatkan degradasi kolagen dan fibroblas. Injeksi intralesi menggunakan triamnicolon acetonide (TAC) 10-40mg/ml diulang setiap 3-4 minggu dapat dilakukan hingga 6 bulan memberikan hasil cukup baik. Lebih maksimal pada scar yang baru. Untuk scar lama hanya mengurangi sampai ukuran yang lebih kecil.

  1. Cryotherapy

Dapat sebagai terapi tunggal ataupun kombinasi dengan injeksi kortikosteroid. Untuk hasil yang lebih maksimal. Untuk kombinasi dilakukan cryotheraphy dulu kemudian injeksi steroid. Cryo menyebabkan kerusakan vaskuler sehingga terjadi anoksia dan nekrosis jaringan.

  1. Revisi scar

Sebelum tindakan bedah harus dipastikan apakah ini merupakan scar hipertrofik dan keloid. Pada penanganan scar hipertrofi, scar <1 tahun masih dapat menunjukan perbaikan tanpa manipulasi. Tingkat rekurensi setelah bedah pada scar hipertrofik lebih kecil. Berbeda dengan keloid tingkat rekurensi 45-100%.

  1. Radioterapi

Superficial x-rays, electron-beam terapi dan brachytherapy dosis rendah atau tinggi memberikan hasil yang cukup baik. Prinsip kerjanya yaitu dengan menghambat neovaskularisasi dan proliferasi fibroblas sehingga produksi kolagen menurun. Terapi sebaiknya dimulai sejak 24-48 jam pasca tindakan dengan dosis total 40 gy untuk mencegah efek samping hipo/hiperpigmentasi, eritema, telengiektasis dan atrofi.

  1. Laser

Terapi 585-nm pulse dye laser (PDL) sangat dianjurkan untuk terapi scar hipertrofik ataupun keloid. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya diulangi hingga 2-6 kali. Dengan panas yang merusak kolagen terapi ini dipercaya dapat membentuk kolagenesis baru. Berhati-hati dengan efek samping hipo/hiperpigmentasi serta blister. Sering terjadi purpura pasca terapi yang bertahan hingga 7-10 hari. Terapi 1064-nm neodym, serupa dengan PDL namun, terapi dilakukan 5-10 kali dengan interval 1-2 minggu.

  1. Injeksi interferon

Salah satu terapi yang cukup baik karena IFN dapat mengurangi sitesis kolagen tipe 1 dan 2. INF-a2b memiliki efek antagonis terhadap TGF-b dan histamin. Penyuntikan intralesi 2 kali sehari selama 4 hari mampu mengurangi ukuran scar hingga 50% dihari ke-9.

  1. Injeksi doxorubicin

Memilki cara kerja menghambat sintesis kolagen dengan menghambat enzim prolidase yang memiliki peranan untuk resintesis kolagen.

  1. Injeksi verapamil

Merupakan golongan CCB untuk menghambat sintesis dari matriks ekstraseluler dan meningkatkan proses fibrinase.

  1. Bleomycin sulfate

Bekerja dengan langsung menghambat sintesis kolagen melalui mekanisme penghambatan TGF-B1. penyuntikan intralesi sebanyak 3-5 kali dalam 1 bulan terbukti menurunkan 69,4% keloid. Namun memiliki efek samping hiperpigmentasi dan atrofi dermal.

  1. 5-fluorouracil

Merupakan zat kemoterapi dengan meningkatkan apoptosis fibroblas. Injeksi setiap minggu selama 12 minggu berhasil mengurangi scar hingga 50% pada rata-rata pasien tanpa kegagalan dan rekuren dalam 24 bulan kemudian.

  1. Botulinum Toxin A (BTA)

Bekerja menghambat mobilisasi otot dan mengurangi tegangan kulit, sehingga dapat mengurangi mikrotrauma dan inflamasi. Uji coba injeksi 15 U BTA sepanjang garis operasi dengan jarak setiap 2 cm pada 24 jam pasca penutupan luka berhasil cukup baik.

Sinto, Linda. 2018. Scar hipertrofik dan keloid: Patofisiologi dan penatalaksanaan.

Rachmantyo, Brama et al. 2018. perbandingan terapi kombinasi laser CO2-injeksi triamnisolon dengan injeksi triamnisolon monoterapi pada keloid

Betarbet, udayan et al. 2020. Keloids: A review of etiology, prevention and treatment

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Baca Juga:

MANDI PASCA KHITAN

MANDI PASCA KHITAN

Prosedur khitan adalah tindakan untuk menghilangkan kulup dari penis dengan cara membuat luka pada kulup sehingga terbentuklah luka pasca khitan. Luka ini kemudian perlu dilakukan perawatan yang intens untuk mempercepat proses penyembuhan luka khitan. Namun, dimasyarakat masih banyak yang bertanya-tanya tentang apakah boleh setelah khitan mandi atau tidak boleh sama sekali untuk mempercepat proses penyembuhan?

Setelah khitan anak biasanya dianjurkan untuk tidak terkena air selama 3 hari awal. Namun, faktanya anak haruslah mandi sejak hari pertama. Mengapa demikian karena jika anak dibiarkan tidak mandi sampai dengan luka khitan sembuh akan membuat tubuh anak dipenuhi oleh kotoran dan bakteri yang malah bisa membuat tubuh tidak higenis. Dan jika sampai bakteri masuk kedalam luka sunat maka akan memperlama proses penyembuhan luka sunat.

Proses pemotongan lapisan kulit pada penis yang dilakukan saat khitan memang merupakan prosedur sederhana. Meski begitu perawatan pasca sunat tetap harus diperhatikan. Selain mengatur menu makanan, konsumsi obat (jika dibutuhkan) hingga proses pembersihan harus dilakukan dengan penuh ketelatenan. Selain untuk mencegah infeksi, perawatan harus benar agar luka cepat sembuh. 

Nah mandi seperti apa yang dianjurkan?

Mandi yang dimaksud yaitu dengan menggunakan trik tertentu atau biasa disebut mandi cerdas. Beberapa tehnik yang bisa digunakan seperti:

  1. Gunakan kain lap

Cara melakukannya adalah dengan mengunakan kain handuk yang sudah dibasahi dengan air. Kemudian di lap pada area sekitar tubuh, kecuali pada kemaluan. Nah ini berbeda dengan mandi yang konvensional yaitu mandi dengan gayung/shower yang di siramkan langsung ke badan dan beresiko mengenai kemaluan.

  1. Mandi dengan melindungi kemaluan dengan alat

Jika ingin mandi secara konvensional juga tetap bisa yaitu dengan cara memasang alat pelindung pada kemaluan agar air tidak mengenai kemaluan. Alat bisa berupa celana atau pelindung yang diikatkan ke pinggang dan seperti payung, bahkan di jaman sekarang ini sudah ada celana dalam dari plastik sehingga anak bisa mandi dengan nyaman.

  1. Menggunakan air hangat

Mengapa dianjurkan menggunakan air hangat karena air hangat/air yang sudah melewati proses pemanasan akan terbebas dari bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada luka khitan. Penggunaan air hangat juga akan menimbulkan efek relax pada anak sehingga lebih nyaman ketika mandi. Jika air tidak sengaja terciprat ke luka khitan tidak usah khawatir cukup keringkan dengan kassa air yang mengenai luka.

Perlu diketahui sebelumnya, orang tua harus terlebih dahulu menjelaskan cara merawat luka pada anak walaupun tetap orang tua melakukan pengawasan secara langsung. Dengan diberikannya pengetahuan itu diharapkan tidak akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti kemaluan terluka, jahitan lepas, perdarahan, hingga yang paling parah mengalami infeksi. Terdapat beberapa metode khitan yang malah dianjurkan mandi secara konvensinal sejak hari pertama contohnya metode klamp. Karena luka khitan terlindungi oleh klamp maka sudah bisa terkena air

Sampai jumpa lagi di artikel lainnya..

salam Jagoan Khitan

Baca Juga:

BURRIED PENIS

BURRIED PENIS

APA ITU BURRIED PENIS ?

Definisi

Burried penis atau concealed penis adalah suatu kondisi anomali pada penis memiliki ukuran normal namun terlihat kecil. Sebagian kasus ini merupakan suatu kelainan kongenital.

Epidemiologi

Penelitian yang dilakukan oleh matsuo seorang peneliti dari jepang mendapatkan prevalensi sebesar 3,7% dan satu penelian lain yang dilakukan di Amerika dengan angka kejadian 0,4% dari 4,84 juta kelahiran.

Etiologi

Penyebabnya sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Tapi sebagian besar didapatkan karena terbentuknya jaringan fibrous yang abnormal sehingga lapisan dartos menjadi tidak elastis. Sehingga mencegah pemanjangan penis ke arah depan dan menahan penis terbenam dibawah pubis.

Keluhan

  • Mengeluh penisnya kecil
  • Nyeri saat ereksi
  • Infeksi saluran kencing berulang
  • Kesulitan miksi
  • Fimosis sekunder
  • Disfungsi seksual
  • Gangguan psikologis

 

Klasifikasi

Penanganan

Tidak ada batasan yang jelas untuk usia kapan dilakukannya operasi pada burried penis. Pada penelitian eun hong jung dkk mengatakan bahwa operasi dapat dilakukan saat akhir masa pubertas untuk menunggu lemak pada prepubis berkurang. Casale dkk memberikan rekomendasi untuk dilakukan operasi saat anak mulai berjalan, ketika lemak abdomen mulai berkurang. Sedangkan menurut ferro et al mengatakan bahwa koreksi buried penis harus dilakukan segera karena bukan hanya menghindari efek psikologis tapi juga menghindari kesulitan menjaga kebersihan diri.

Tujuan utama dari operasi sebenarnya adalah untuk mengembalikan penis ke fungsi dan anatomi normal. Berdasarkan penelitian chopra dkk, membuat 6 prinsip dalam tatalaksana burried penis yaitu:

  1. membebaskan sikatrik
  2. menghilangakan jaringan fibrosis yang menempel pada penis (pannus) sebanyak mungkin terutama pada pasien obesitas
  3. mempertahankan penis sesuai morfologi anatomis normal
  4. memfiksasi median raphe pada dasar penis
  5. skin graft bila diperlukan
  6. imobilisasi serta splinting yang adekuat setelah operasi.
Duarsa et al. 2020. tatalaksana buried penis di RSUP Sanglah
Kassem et al. 2018. Early surgical correction of buried penis. Annals of pediatric surgery
King et al. 2013. buried penis: evaluation of outcomes in children and adults ,modification of a unified treatment algorithm and review of the literature. Hindawi publishing corporation
Hadidi. 2014. Burried Penis: Classification Surgical Approach. Journal Of Pediatric Surgery
SIMAK YUK APA ITU BALANITIS ?

SIMAK YUK APA ITU BALANITIS ?

Definisi

Balanitis merupakan peradangan yang terjadi pada glans penis. Biasanya sering bersamaan dengan kelainan posthitis merupakan peradangan pada kulup. Jika terjadi bersamaan keduanya disebut sebagai balanoposthitis. Balanitis sering timbul pada pria yang tidak melakukan sirkumsisi karena jeleknya higenisitas akibat terkumpulnya banyak smegma. Balanitis dapat terjadi akibat infeksi maupun non-infeksi (trauma).

Etiologi

Etiologi dari balanitis paling sering adalah oleh infeksi bakteri maupun jamur (20%). peradangan muncul sebagai akibat dari higin yang kurang. Akibatnya bakteri maupun jamur tumbuh di area tersebut. Penyebab dari balatinitis lainnya adalah penggunaan sabun iritatitif/alergi, alergi kondom lateks, konsumsi obat yang menimbulkan alergi, infeksi menular seksual (sifilis trikomoniasis dan gonore), kelainan kulit (dermatitis dan psoriasis), trauma, diabetes, fimosis dan obesitas.

Faktor Resiko

  1. Pria yang belum di sirkumsisi
  2. Fimosis
  3. Diabetes mellitus
  4. Immunodeficiency
  5. Poor hygiene and over-washing
  6. Trauma (e.g zipper injury)
  7. Diaper dermatitis
  8. Obesitas
  9. Penyakit menular seksual (herpes dan gonore)

Gejala Klinis

Tanda dan gejala yang dapat timbul berupa:

  1. Onset gejala bisanya berlangsung antara 3-7 hari sebelumnya
  2. Nyeri pada penis
  3. Dysuria
  4. Rewel pada bayi dan anak
  5. Rasa gatal, berhubungan dengan lesi kemerahan pada glans dan preputium
  6. Bengkak pada glans dan preputium
  7. Berbau dan munculnya cairan purulen dari penis

Diagnosis

Dokter akan mendiagnosis berdasarkan status kesehatan sebelumnya dan sekarang serta dari pemeriksaan fisik. Balanitis akan ditegakan jika terdapat nyeri pada penis dan ada tonjolan yang berwarna kemerahan pada glans. Pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab dari balanitis apakah karena jamur, bakteri atau virus dengan melakukan swab uretral discharge.

Pengobatan

Tujuan utama dari pengobatan balanitis adalah untuk mengeradikasi infeksi dan mencegah komplikasi serta mencegah kejadian terulang kembali (edukasi).

Pengobatan non-farmakologi

  1. Kompres hangat/berendam
  2. Menjaga kebersihan diri: dengan menarik preputium kebelakang glans dan mencuci dengan air hangat atau air saline dua kali sehari
  3. Hindari melakukan paksaan saat menarik preputium pada anak-anak dan pria yang belum di sirkumsisi
  4. Pastikan mengeringan penis setelah dibersihkan
  5. Hindari penggunaan bahan kimia dan sabun yang menimbulkan iritasi ataupun alergi

Pengobatan Farmakologi

Pengobatan secara konservatif akan terlihan hasilnya setelah 3-5 hari setelah pemberian obat. Pemberian agen obat tergantung dari klinis dan penyebab infeksinya.

Edukasi

  1. Pengaplikasian obat secara teratur
  2. Menjaga penis tetap bersih
  3. Tidak menarik preputium secara paksa pada bayi dan anak karena dapat menyebabkan perlengketan
  4. Anak remaja dan dewasa harus di instruksikan untuk menarik preputium kebelakang dan mencuci penis dengan air hangat kemudian dikeringkan
  5. Hindari penggunaan kondom lateks jika menimbulkan iritasi
  6. Mencuci celana dalam dengan sabun dan pastikan tercuci dengan bersih
  7. Seorang yang bekerja dengan bahan-bahan kimia dianjurkan mencuci tangan secara teratur untuk menghindari paparan bahan kimia ke penis.

Komplikasi

  1. Nyeri
  2. Lesi ulseratif di glans/preputium
  3. Fimosis
  4. Parafimosis
  5. Striktur uretra
  6. Progresif perubahan dari premaligna ke maligna lesi
Askatchewan RN Association. 2019. Balanitis: Adult & Pediatric

Pandya, Ipsa et al. 2014. Approach to balanitis/balanopsthitis: Current Gudelines. Indian J Sex Transm Dis AIDS

Edwards, SK et al. 2013. European Guideline For Management Of Balanoposthitis. International Journal of STD&AIDS
Ini Yang Terjadi Pada Orang Yang Beritikaf

Ini Yang Terjadi Pada Orang Yang Beritikaf

Muslim di seluruh dunia setiap tahun melakukan puasa selama kurang lebih 30 hari. Berpuasa diantaranya adalah tidak mengkonsumsi makanan, minuman, merokok dan melakukan hubungan seksual dari sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari tentunya. selain itu, ada hal lain yang perlu dijaga diantaranya lisan dan perbuatan dari dosa. Berpuasa di bulan ramadhan memiliki peran dalam mengatur organ dan sel tubuh. Berpuasa membuat organ dan sel bekerja sesuai dengan kapasitasnya dan mencoba mengistirahatkan tubuh agar tidak bekerja telalu berat. Sehingga tidak salah jika beberapa penelitian menunjukan manfaat berpuasa dalam menjaga tingkat imunitas bahkan meningkatkan derajat kesehatan seseorang. Ketika berpuasa saja sudah memberikan manfaat yang baik, bagaimana jika di tambah dengan itikaf?

Sebagian muslim akan melakukan ibadah itikaf terutama 10 hari terakhir bulan ramadhan. Menurut agama islam, berdiam diri di suatu tempat seperti mesjid dan menyibukan diri hanya untuk beribadah dan memohon ampunan itulah yang disebut itikaf. Ibadah yang dilakukan dapat berupa membaca quran, berdoa dan berdzikir.

Ketika melakukan itikaf dibulan ramadhan bersamaan dengan puasa tubuh akan mengalami keadaan very deep hunger (keadaan lapar yang dalam). hal ini karena selama itikaf di bulan ramadhan asupan makanan berkurang menyebabkan kalori total tubuh berkurang. Di beberapa penelitian, kekurangan total kalori akan menyebabkan melemahnya sistem imunitas sehingga memperbesar peluang terjadinya infeksi, misalnya pada orang dengan malnutrisi. Namun, dilain sisi penelitian terbaru menunjukan apabila asupan kalori berkurang akibat berpuasa selama lebih dari 3 hari dapat meningkatkan sistem imunitas.

Kondisi very deep hunger ini menyebabkan perubahan pada sistem imunitas. Limfosit merupakan parameter yang menunjukan tingkat dari sistem imun. Limfosit dan sel sejenisnya memiliki peran dalam menjaga imunitas seluler dan humoral. Dalam suatu penelitian yang menghubungan itikaf dengan tingkat imunitas. Penelitian ini dilakukan pada 46 orang dengan rata-rata umur 41 tahun. Dilakukan pemeriksaan berat badan, lingkar pinggang, Body Mass Index (BMI), indikator imunitas humoral (IgA, IgM, IgG) dan indikator sistem imun lain (NK cell, CD3, HLA DR1 dll) yang diambil dari sampel darah. Diukur sebelum dan setelah itikaf kemudian dibandingkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat penurunan berat badan, lingkar pinggang dan BMI yang bermakna selama periode penelitian.

Kadar limfosit meningkat setelah menjalani itikaf di bulan ramadhan hal ini dapat menjadi indikator terjadinya penguatan dari sistem imun. Selain itu, terdapat peningkatan kadar imunoglobulin baik IgA, IgM dan IgG dan sesuai dengan penelitian lain yang menunjukan bahwa itikaf secara positif mempengaruhi sistem imun humoral. Dari penelitian lain, menyatakan bahwa sistem imun akan menjadi kuat bila muncul keadaan very deep hunger selama kurang lebih 72 jam.

Dari uraian ini bisa diambil kesimpulan bahwa berpuasa pada bulan ramadhan memiliki berbagai manfaat. Salah satunya adalah meningkatkan sistem imunitas tubuh. Bila saat berpuasa menjalankan itikaf di masjid selama 10 hari terakhir ramadhan. Maka akan menimbulkan keadaan very deep hunger yang diketahui akan memperkuat sistem imunitas tubuh bila dilakukan lebih dari 3 hari atau lebih dari 72 jam.

Penulis : dr. Ferdy Arif Fadilah

Editor : dr. Rio Adhi Wicaksono, MPH, Noviyanti

Eker, Hasan et al. 2017. The Impact Of Ramazan I’tikaf On Immune System. Malaysian Journal of Public Health Medicine

APA ITU ANASTESI LOKAL ?

APA ITU ANASTESI LOKAL ?

Definisi

Anastesi memiliki arti yaitu pembiusan. Asal kata anastesi terdiri dari 2 kata dalam bahasa yunani an- “tidak/tanpa” dan aesthetos “persepsi, Anastesi lokal merupakan jenis pembiusan yang menyebabkan blokade sensasi dan rasa nyeri pada bagian tubuh tertentu pada area sekitar obat bius masuk. Berbeda halnya dengan anastesi umum yang menyebabkan tidak sadarkan diri sehingga sensasi dan rasa nyeri tidak dirasakan lagi pada seluruh tubuh.

Cara kerja

Cara kerja lokal anastesi dip perankan oleh ion calcium (Ca) dan ion sodium (Na) pada sel saraf. Diawali dengan di masuknya anastesi lokal menyebabkan perubahan komposisi ion Na dalam sel. Hal ini disebabkan karena anastesi lokal merupakan obat yang memiliki efek competitif antagonis dengan reseptor ion Ca di membran sel. Dimana ion Ca menempel pada reseptornya di membran sel pada kanal ion Na. Ketika obat anastesi lokal menempel pada reseptor ion Ca di kanal sodium membran sel akan menyebabkan penurunan dari pertukaran ion Na yang akan menyebabkan penurunan depolarisasi dan kegagalan untuk mencapai potensial aksi yang normalnya memiliki kadar 5-6 kali lebih besar dari minimal yang diperlukan untuk hantaran konduksi.

Ion Na akhirnya gagal masuk ke axon dari saraf sehingga potensial aksi tidak terjadi. Membran saraf menjadi dalam keadaan polarisasi karena tidak adanya perpindahan ion. Impuls tidak terjadi, energi tidak dihasilkan sehingga blokade saraf pun terjadi akibat lokal anastesi.

Jenis anastesi lokal

Bahan Anastesi lokal terbagi menjadi 2 golongan yaitu ester dan amida. Beberapa bahan yang termasuk dalam golongan ester yaitu kokain, prokain, kloroprokain, tetrakain. Untuk bahan yang termasuk dalam golongan amida seperti lidokain, mepivakain, bupivakain, prilokain, etidokain dan artikain dll. Berikut adalah timeline penemuan obart anastesi lokal.

Durasi Anastesi

Penambahan Vasokontriksi

Vasokonstriktor merupakan obat tambahan yang penting untuk anastesi lokal, dengan beberapa alas an:

  • Dengan vasokontriksinya pembuluh darah akan menyebabkan penurunan aliran darah ke lokasi dimana obat diberikan
  • Mengurangi absorpsi ke jantung
  • Menurunkan resiko toksisitas akibat anastesi
  • Dapat meningkatkan lama kerja dari obat anastesi lokal
  • Vasokonstriksi menurunkan pendarahan pada lokasi pemberian obat sebagai antisipasi.

Vasokonstriktor yang biasanya digunakan adalah yang serupa dengan mediator sistem saraf simpatik seperti epinefrin dan norepineprin. Cara kerjanya seperti respon saraf adrenergik sehingga diklasifikasikan sebagai obat simpatomimerik atau adrenergik. Berikut dibagi menjadi 3 jenis dari vasokonstriktor.

  • Direct acting, bekerja langsung pada reseptor adrenergic
  • Indirect acting, bekerja secara tidak langsung dengan merangsang pelepasan norepineprin dari saraf adrenergic terminal
  • Mix acting, campuran antar keduanya

Berikut adalah dosis vasokonstriktor umum yang digunakan untuk anastesi lokal :

Epineprin merupakan vasokonstriktor yang paling sering digunakan dalam keseharian. Namun, perlu diperhatikan efek samping epineprin, karena pada penelirian terbaru menunjukan dapat meningkatkan kardiak output dan stroke volume. Pada pasien dengan penyakit jantung dan tiroid pemberiannya akan mengakibatkan reaksi simpatomimetik seperti gelisah, takikardim berkeringat dingin dan palpitasi atau disebut juga dengan reaksi epineprin.

Jalur pemberian anastesi lokal

  1. Pemberian secara peroral

Lokal anastesi sangat jelek di absorbs oleh sistem gastrointestinal. Kebanyakan lokal anastesi khususnya lidocaine setelah pemberian oral dan di cerna oleh sistem gastrointesntinal memasuki sirkulasi heoar dan sekitar 72% metabolinya di transformasi menjadi metabolit inaktif.

  1. Pemberian secara topical

Anastesi lokal akan diserap dengan kecepatan yang berbeda tergantung lokasi membrane mukosa. Pada mukosa trakea tingkat absorpsinya hampir sama dengan pemberian intavena. Obat yang biasa diberikan seperti epineprin, lidocaine, atropine, naloxone dan flumazenil digunakan untuk keadaan darurat. Sedangkan absorpsi lebih lambat pada mukosa pharynx. Pada mukosa esophagus ataupun vesica urinary lebih lambat dari pharynx. Ketika terdapat bagian kulit yang tidak utuh (luka bakar) penggunaan anastesi lokal dapat menghasilkan efek anastesi.

  1. Pemberian secara injeksi

Injeksi yang dapat dilakukan yaitu dengan injeksi subcutan, intramuscular dan intravena. Pemberian intravena menghasilkan efek kerja yang sangat cepat biasanya dipakai untuk pertolongan pada dysritmia ventrikular. Namun, semakin cepat efek kerja semakin banyak metabolit anastesi dalam dalam menyebabkan memicu reaksi efek samping yang besar kecuali jika manfaat lebih besar dirasakan.  

Distribusi

Ketika anastesi lokal masuk ke dalam darah sebagian besar akan mengalami distribusi cepat ke otak, liver, ginjal, paru dan jantung. Sedangkan untuk bagian lemak dan skeletal mengalami distribusi lambat karena daya perfusi rendah pada organ tersebut.

Biotranformasi Anastesi Lokal

  1. Golongan Ester

Ester merupakan anastesi lokal tipe terhidrolisis oleh plasma. Tingkat hidrolisis mempengaruhi tingkat toksisitas. Berikut adalah table yang menunjukan tingkat hidrolisis dari golongan ester.

Semakin cepat terhidrolisis, semakin rendah toksisitasnya seperti chloroprocain. Sedangkan tetracaine terhidrolisis 16 kali lebih lambat dibandingkan dengan chloropocaine memiliki potensial toxin lebih besar.

  1. Golongan Amide

Biotransformasi amide lebih complek dibandingkan ester. Lidocaine, mepivacaine, etidocaine dan bupivacaine dimetabolisme di liver. Sedangkan prilocaine utamanya dimetabolisme di liver namun dapat juga di paru. Articain memiliki molekul campuran ester dan amide sehingga di metabolism di darah dan liver.

Eksresi

Ginjal merupakan organ utama untuk eksresi anastesi lokal. Golongan ester hanya terdapat sedikit dalam urin karena sudah terhidrolisis di plasma. Berbeda halnya dengan golongan amide yang kandungannya besar dalam urin. Sehingga pada pasien dengan gangguan ginjal tidak disarankan untuk menggunakan anastesi lokal.

Malamed, Stanley. 2011. Handbook of Local Anasthesia

 

Informasi tentang rumah khitan cirebon yang menggunakan teknologi modern dan paling di rekomendasikan untuk khitan segera hubungi JAGOAN KHITAN